Friday, February 12, 2010

Teknik Mancing Bulus

teknik mancing bulus sungai

Bulus Sungai Serayu

BAWANG- Seekor kura-kura atau oleh warga kampung biasa disebut bulus berbadan besar dengan bobot 57 kg, bisa ditangkap setelah sebelumnya terjerat tali senar pancing milik Slamet (30), warga Desa Pucang, Kecamatan Bawang, Banjarnegara.

Hewan itu ditangkap Minggu (5/7) malam, saat dia bermaksud memancing ikan di Sungai Serayu yang langsung menuju waduk Mrica, atau tak jauh dari penambangan pasir desa setempat.

Tak menunggu lama setelah kail yang diberi umpan usus ayam dilempar ke tengah sungai, tali senarnya langsung bergerak kuat. Ketika di tarik, makin kuat perlawanan yang dialami Slamet. Saat itulah dia melihat ada kura-kura besar yang muncul di permukaan, dia pun sekuat tenaga memenangkan ‘’pertarungan’’ itu.

Rupanya mata kail menancap di kaki si reptil dan dengan susah payah ditarik ke darat. Namun, karena berat dan berbahaya, dia pun lantas meminta bantuan empat temannya untuk membawa pulang.

Pagi harinya, kura-kura itu pun langsung menjadi tontonan warga sekitar. Untuk mengendalikannya agar tidak lari, keempat kakinya diikat dengan tali plastik yang biasa untuk jemuran. Supaya tetap diam di tempat dan tak kemana-mana, badannya dibalik sehingga batok atau tempurung badannya berada di bawah. Dalam posisi tersebut, reptil itu hanya diam saja. ‘’Larinya cukup cepat dan gigitannya membahayakan. Rencananya akan kami jual kepada seseorang di Banjarnegara yang berniat memeliharanya,’’ ujar Slamet, kemarin.
Sering Terlihat Sementara itu, seorang warga Pucang, Ipung (26) mengatakan, pada genangan waduk Mrica sering dijumpai kura-kura besar. Ia mengaku pernah memergoki kura-kura dengan garis tengah dua rentangan tangan, saat sedang menambang pasir. Adapun yang ditangkap Slamet kemarin masih terhitung kecil dengan panjang sekitar 80cm dan lebar 60cm. ‘’Kura-kura yang saya lihat dulu, sempat mengangkat bagian depan perahu yang berisi pasir. Padahal, bobot pasir sampai beberapa ton,’’ katanya.

Seorang pemburu kura-kura asal Desa Semampir, Kecamatan Banjarnegara, Kuat (70), mengaku pada tahun 2006 pernah menangkap kura-kura berbobot 105 kg. Menurutnya, kura-kura raksasa itu terkena pancing di Pucang dan kemudian bergerak ke arah hilir. (H25-74)Suara Merdeka

Kuliner Bulus Banjarmasin

source http://www.forumbebas.com/thread-30932.html
BAU sedap itu menyeruak ke sebuah ruangan sempit berukuran dua kali empat meter. Sejumlah pria yang tengah menunggu sajian menu istimewa pun mengaku makin merasa lapar.

"Tunggu beberapa menit lagi, biar lebih matang," ucap sang koki, Gumarwan (70) kepada para pengunjung di warungnya.

Warung makan ca bulus miliknya, Depot Nikmat di Jalan Veteran Banjarmasin memang tak pernah sepi dari pengunjung. Meski tempatnya sempit, namun masih mampu menampung para pelanggan setianya.

Bulus, memang bukan menjadi satu-satunya menu yang ditawarkan, karena masih ada sate buaya dan sate bulus. Tapi ca bulus, dianggap cukup istimewa bagi pelanggannya.

Bulus, adalah nama familiar dari kura-kura yang hidup di perairan air tawar atau sungai. Bulus biasa diburu dengan senar pancing dua mata dengan umpan precil atau anak kodok.

Di Banjarmasin, warga memburu bulus di Sungai Martapura. Warna bulus tergantung dari kondisi air tempat ia hidup. Misalnya di Sungai Martapura, bulus berwarna coklat karena air di sungai kebanggaan warga Banjarmasin itu berwarna kecoklatan.

"Nah, sekarang sudah matang," kata Gumarwan yang menyajikan ca bulus di dalam sebuah piring warna putih. Selain berbau sedap, warna daging menggoda, kepulan asapnya menambah selera.

Wuih..., rasanya enak sekali. Apalagi disantap panas-panas, terasa gurih. Dagingnya begitu empuk. Tak perlu lama mengunyah. Dipadu dengan nasi, membuat lebih terasa lho.

"Warung ini memang kecil, tapi pelanggannya datang dari Jakarta dan Surabaya lho. Terutama relasi dari para pebisnis di Banjarmasin," kata Gumarwan berpromosi.

Untuk membuat ca bulus menurut Gumarwan cukup sederhana. Setelah daging dicuci bersih, barulah menyiapkan bumbu-bumbunya. Cukup sederhana karena hanya memerlukan bawang putih, bawang merah, kencur dan jahe putih. Kalau mau membuat variasi rasa, bisa ditambah penyedap.

Untuk membuat asin dan manis sesuai selera, tambahkan garam, gula. Bisa juga pakai kecap. Pokoknya, bisa disesuaikan dengan selera lidah kita.

Harganya memang cukup mahal. Sepiring ca bulus bersama nasi dan minuman hangat, harus ditebus Rp 35.000. Tapi bagi mereka yang hobi menikmati hidangan lezat, uang bukanlah kendala.

Menurut Gumarwan, bahan baku berupa bulus dia dapatkan dari warga yang biasa mancing di Sungai Martapura dan sekitarnya. Namun jika sedang sepi bulus, dia mendatangkan dari Balikpapan, Kalimantan Timur.

"Kami biasa beli dari pemancing lokal. Untuk satu kilogram bulus, harganya ya Rp 20.000 - Rp 30.000. Tergantung kondisi bulusnya juga," ujarnya.

Bulus-bulus yang diterimanya masih dalam keadaan hidup. Untuk menyembelihnya, perlu keahlian khusus. Sebab, jika sampai si penyembelih digigit bulus, maka bisa bahaya.

"Bulus itu kalau sudah menggigit, sulit dilepas. Jadi ya ada tekniknya tersendiri," kata suami Nyosri ini.

Setelah disembelih, barulah 'dioperasi' perut dan kakinya. Daging di bawah tempurung diambil sebersih mungkin. Kemudian daging-daging itu dicuci dan disimpan di lemari pendingin.

"Tulang-tulangnya bisa dijemur agar keluar minyak bulusnya. Tempurungnya juga bisa dijual, juga tulang kakinya. Jadi banyaklah yang bisa dijual," jelasnya.

Menurut ayah dua anak yang telah menggeluti bisnis warung makan bulus sejak 1972 ini, ca bulus bisa bermanfaat untuk kesehatan dan kecantikan.

"Makanya banyak orang Surabaya dan Jakarta datang khusus ke sini untuk makan dan membawa pulang bungkusan ca bulus sebagai oleh-oleh keluarga," katanya.

Spesialis Mancing Bulus Serayu

SPECIALIS MANCING BULUS DAS SERAYU Kuliahkan 2 Anaknya
Kedaulatan Rakyat

SUATU siang, di tahun 2006. Kuat melempar kail berumpan usus ayam di genangan waduk PLTA Mrica di Desa Pucang, Barat Kota Banjarnegara. Tak berselang lama, tali senar pancing bergerak. Dari gerakannya yang tak terlalu agresif, Kuat yakin mata pancing ditelan oleh kura-kura atau bulus.

Tempat Kuat memancing, sebelum menjadi genangan waduk mulai 1989, merupakan kedung atau cekungan Sungai Serayu yang sangat dalam. Orang menyebutnya dengan nama Kedung Celong. Kuat terperanjat sekaligus girang saat bulus yang terkena pancing tadi menyembul ke permukaan air selama beberapa detik. Ukurannya luar biasa besar, dengan garis tengah sekitar satu setengah meter. Selanjutnya Kuat pinjam perahu milik penambang pasir yang mangkal di tempat itu. Perahu dikayuh pelan-pelan mengikuti arah tarikan senar pancing. Rupanya, bulus menuju arah hilir. Sampai di wilayah Desa Blambangan atau sekitar dua kilometer dari Pucang, bulus raksasa itu menepi.Dibantu seseorang, akhirnya bulus bisa diangkat ke darat. Ketika ditimbang, bobot bulus mencapai 105 kilogram.

Tertangkapnya hewan air raksasa bernama ilmiah Amyda cartilaginea tadi, tak pelak membuat gempar. Kuat kemudian menjualnya kepada seseorang di Purbalingga dengan harga Rp 1,5 juta.

‘Jajahan’

Memancing bulus, ditekuni Kuat sejak muda hingga usianya yang sekarang mendekati 80 tahun. Daerah ‘jajahan’ utamanya adalah Sungai Serayu yang kini jadi genangan waduk PLTA Mrica. Dari pekerjaannya tadi, warga Dusun Gondang Desa Semampir barat kota Banjarnegara itu, mampu menghidupi keluarganya. Bahkan, anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. ”Dua anak saya sekarang masih kuliah di Yogya. Semua berkat bulus,” kata Kuat, Kamis (16/7) dengan nada bangga.

Demi bulus, hari-hari Kuat nyaris dihabiskan ditepi genangan waduk. Sering pula ia harus begadang semalaman di situ dengan berbekal umpan seperti usus ayam, bekicot, katak kecil dan lainnya. Rupanya, alam cukup bersahabat dengan lelaki tua tadi, terbukti populasi bulus cukup tinggi. Sehingga, ia tak pernah pulang dengan tangan hampa.

Bulus hasil pancingan Kuat, untuk ukuran kecil hingga 20 kilogram, biasanya dijual Rp 10 ribu/kilogram. Sedangkan bulus dengan bobot 20 kilogram ke atas harganya sekitar Rp 15 ribu/kilogram. Perbedaan harga itu, menurut Kuat, karena semakin tua bulus, kandungan minyaknya makin sedikit. Pembeli bulus, kebanyakan rumah makan, disusul kolektor dan penggemar daging bulus.

Ditanya pendapatan rata-rata per bulan, Kuat tak tak mau menyebut. Namun, Slamet (30) warga Desa Pucang yang kini mencoba mengikuti jejak Kuat sebagai pemancing bulus, mengatakan, pendapatan seniornya itu mencapai jutaan rupiah per bulan.
”Hitungan saya didasarkan pada perolehan bulus pak Kuat sehari-hari. Buktinya, dia bisa membiayai kuliah anak-anaknya,” katanya. (Mad)-s

Ternak Bulus

TERNAK BULUS

A. Pengenalan Jenis

Nama labi-labi (Trionyx sinensis) juga dikenal untuk spesies Trionyx cartilagineous dan spesies Trionyx lainnya. Labi-labi atau bulus dipelihara di dalam kolam. Awalnya, bulus termasuk hama, sama seperti belut. gabus, dan komoditi penting lainnya. Bulus memiliki nilai ekonomis tinggi. Hampir seluruh bagian tubuh labi-labi dapat dimanfaatkan, baik daging maupun cangkangnya. Selama ini pasokan labi-labi dipenuhi dari tangkapan alam karena hasil budi daya belum signifikan jumlahnya.



Bentuk tubuh bulus oval atau agak lonjong, dan pipih. Tubuhnya tanpa sisik dan berwarna abu-abu kehitaman. Kerapas dan plastron (bagian bawah tubuh yang tidak tertutup cangkang) terbungkus kulit yang liat.
Pastronnya berwarna putih pucat hingga kemerah-merahan. Kulit tertutup oleh perisai yang berasal dari lapisan epidermis berupa zat tanduk. Hidungnya memanjang membentuk tabung, seperti belalai. Labi-labi tidak bergigi, tetapi rahangnya sangat kuat dan tajam.


B. Kebiasaan Hidup di Alam

Labi-labi bernapas dengan paru-paru (pulmo), baik yang baru menetas maupun labi-labi dewasa.

1. Kebiasaan makan

Labi-labi memakan ikan dan udang kecil di alam. Di kolam, labi-labi bisa diberikan pakan berupa cincangan ikan atau isi perut ternak ruminansia.

2. Kebiasaan berkembang biak

Di alam, labi-labi umumnya berpijah antara Juli—Desember. Labi-labi berkembang biak dengan cara bertelur (ovivar). Setiap kali labi-labi bertelur mencapai 10-30 butir. Telur berwarna krem dengan diameter antara 2-3 cm. Telur-telur yang dikeluarkan ditimbun dalam tanah berpasir selama lebih kurang 45-50 hari pada suhu 25-30 derajat C.

C. Memilih Induk
Labi-labi yang hendak dipijahkan di kolam pemijahan harus memenuhi persyaratan khusus, di antaranya umur dan ukuran. Selain itu, perbandingan antara induk jantan dan betina harus tepat. Adapun ciri induk jantan dan betina yang baik sebagai berikut.


Ciri induk yang berkualitas
Betina
- Umur sudah mencapai 2 tahun atau lebih.
- Ukuran tubuhnya lebih kecildibandingkan jantan.
- Ekor induk betina pendek dan tidak menonjol keluar dari cangkangnya.
- Bentuk cangkangnya lebih bulat dan lebih tebal.
- jarak antar kedua kaki belakang lebih panjang, karena erat kaitannya dengan proses bertelur.
- Alat kelamin tumpul.




jantan
- Umur sudah mencapai 2 tahun atau lebih.
- Ukuran tubuhnya lebih besar dibandingkan betina, kadang-kadang dua kali besarnya.
- Ekor induk jantan lebih panjang dan menonjol keluar dari cangkangnya.
- Bentuk cangkangnya lebih oval dan dan lebih tipis.
- jarak antar kedua kaki belakang lebih pendek.
- Alat kelamin lancip.



D. Pemijahan ahan di Kolam

Dalam pemijahan labi-labi di kolam perlu diperhatikan faktor-faktor penting lainnya, seperti konstruksi kolam, persiapan kolam, dan proses pemijahannya.

1. Konstruksi kolam
Kolam pemijahan labi-labi berbentuk persegi panjang. Luas kolam tergantung lahan yang tersedia, umumnya antara 200-300 m2 dengan ketinggian pematang 1,5-1,75 m. Dasar kolam sebaiknya dilapisi pasir, sedangkan dinding pematang diusahakan tembok.

Pada salah satu sisi kolam dibuatkan kandang peneluran seluas 2 M X 2 m x 1 m sebanyak 3 buah. Kandang ini dihubungkan dengan jembatan penghubung yang terbuat dari anyaman bambu atau papan. Tujuan pembuatan jembatan adalah untuk memudahkan induk labi-labi masuk ke dalamnya. Kandang peneluran sebaiknya dilengkapi peneduh untuk melindungi telur dari sengatan matahari langsung dan hujan. Dasar kandangnya dilengkapi dengan pasir halus setebal 20 cm agar induk mudah menyembunyikan telur-telurnya.

2. Persiapan kolam
Kolam pemijahan dikeringkan 3-5 hari. Kandang tempat pemijahan labi-labi diupayakan terkena sinar matahari langsung agar bibit penyakit mati. Selanjutnya, induk dimasukkan ke dalam kolam. Adapun perbandingan induk jantan dan betina yang dikawinkan 1: 4. Artinya, seekor pejantan labi-labi diharapkan bisa mengawini 4 ekor induk labi-labi betina.


3. Pemijahan

Pemijahan biasanya terjadi pada 7-12 hari setelah penebaran induk. Induk akan bertelur pada malam hari, antara pukul 20.00-02.00. Seekor induk betina biasanya akan menghasilkan 30-40 butir telur. Bentuk telur labi-labi seperti bola pingpong berwarna krem dan ukuran telur biasanya berdiameter antara. 1-3 cm.


Telur yang selesai dikeluarkan oleh induk harus segera dipindahkan ke dalam ruang inkubator atau ruang penetasan telur. Sementara telur yang di dalam timbunan pasir bisa dikeluarkan dengan menggunakan tangan atau alat bantu seperti sekop.


E. Penetasan Telur dan Perawatan Benih

Telur-telur disusun secara teratur di dalam kotak penetasan yang diisi pasir setebal 5 cm. Kotak tersebut berukuran 40 cm x 6o cm x 5 cm. Selain itu, disediakan juga baskom berisi air yang dipasang sejajar dengan permukaan lantai. Baskom ini akan dibutuhkan oleh tukik setelah keluar dari cangkang.

Selama proses penetasan, suhu ruangan diusahakan antara 29-33 derajat C dengan kelembapan 85-95%. Telur akan menetas setelah 40-45 hari pada suhu 30 derajat C. Namun, kadang-kadang telur akan menetas setelah 60 hari.
Setelah menetas, tukik langsung mencari air yang sudah disediakan di dalam baskom tersebut. Berat tukik yang menetas berkisar 7-9,3 g/ekor. Tukik yang baru menetas belum membutuhkan pakan dari luar karena menyerap sari makanan dari yolk sack yang dibawanya sejak lahir.

F. Pendederan

Setelah hari kelima, tukik ditangkap untuk dipindahkan ke kolam pendederan. Luas kolam pendederan biasanya sekitar l00-600 m2, tergantung lahan yang tersedia. Dasar kolam pendederan berpasir dengan ketinggian air berkisar 50-75 cm. Kolam yang airnya terlalu dalam, akan menyulitkan labi-labi untuk mengambil oksigen langsung dari udara.
Kepadatan kolam penebaran 45-50 ekor /m2• Lama pemeliharaan tukik di kolam tersebut selama 2 bulan. Selama pemeliharaan, tukik diberi pakan berupa cincangan daging ikan. Pakan yang diberikan sebanyak 5% dari berat labi-labi yang ditebarkan. Pakan tersebut ditempatkan di tepian kolam, pada batas permukaan air kolam. Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore hari.


Labi-labi suka berjemur sehingga 1/3 bagian kolam diberi tanaman peneduh berupa eceng gondok. Selain itu, beberapa bagian kolam diberi tempat berjemur dari papan yang bisa mengapung.


G. Pembesaran

Luas kolam pembesaran bervariasi antara 100-600 m2. Kolam yang terlalu besar akan menyulitkan pengontrolan, sedangkan kolam yang
terlalu kecil kurang efektif karena jumlah labi-labi muda yang ditebarkan jumlahnya sedikit. Ketinggian air kolam pembesaran minimal 75 cm.

Tukik yang ditebarkan ke dalam kolam pembesaran berumur 2 bulan. ukurannya seragam. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari agar tukik tidak stres. Kepadatan penebaran yaitu 8-10 ekor/m2.

Untuk mencapai ukuran 300-600 g/ekor, seekor tukik membutuhkan waktu 3-6 bulan. Panen biasanya dilakukan setelah dipelihara selama 6-7 bulan dengan berat 700-800 g/ekor. Untuk mencapai
ukuran dewasa, tukik membutuhkan waktu 2-3 tahun. Pembesaran lebih lanjut hanya dilakukan untuk menghasilkan induk labi-labi sebab ukuran konsumsi yang paling dikehendaki konsumen yaitu 700-800 g/ekor, kurang dari 1 kg.

Tongseng Bulus

SATE N TONGSENG BULUS


Februari 11, 2009 oleh jogjakini

Bulus biasanya dipelihara karena keeksotikannya. Binatang yang mempunyai rumah tebal dan keras ini sangat lamban bergerak. Di balik semua itu, Bulus bisa menjadi menu yang unik, sate bulus dan tongseng bulus. Hanya satu tempat yang bisa ditemui hidangan menu bulus ini di Yogyakarta. Anda penasaran? Atau merasa aneh dengana menu yang tidak lumrah ini?

Jika anda ingin mengobati rasa penasaran, bisa saja datang ke warung makan sate dan tongseng Mbak Yanti yang ada di jalan Kranggan. Begitu pesan, bahan sate atau tongseng Bulus yang telah dipersiapkan langsung diramu. Bumbu-bumbu hamper sama, hanya untuk sate mungkin agak terasa pedas. Ini mungkin untuk sedikit mengalahkan amis yang mengikuti sate bulus yang ada. Memang rasanya agak beda dengan sate kambing atau ayam, lebih empuh, dan ada sedikit amis menyertainya. Ujung-ujungnya, enak juga dan pasti habis. satu porsi dengan lima tusuk kecil untuk sate bulus dihargai Rp 15.000,00. Tongsengnya, lebih rendah, Rp 12.000,00.

Yanti yang kini menjaga warung ini mengaku, kakeknya Pak Ali mengawali jualan bulus ini sekitar 15 tahun lalu. Warung itu sempat diwariskan ayahnya, Bapak Affandi dan kini dirinya yang menunggui warung sate Bulus ini. Dalam sehari, rata-rata ada 5-6 pelanggan yang dating. Bulus yang disiapkan tidak tentu, kadang 1 ekor, kadang 2 ekor tergantung ukuran bulus tersebut, rata-rata 3 kilogram.

Selain menikmati rasanya, biasanya orang mencari bulus karena kasiatnya. Kepercayaan pelanggan, banyak manfaat yang dikandungnya. Contohnya, minyaknya bisa untuk perawatan kulit supaya halus, empedu bulus untuk obat asma, sesak nafas, obat sakit gigi. Batok tempurung untuk mempercepat sambung tulang dan yang paling istimewa adalah tangkur bulus yang bermanfaat untuk obat kuat lelaki. Biasanya pelanggan banyak yang mencari ini. Walau begitu, harga tangkur ini lebih mahal, sekitar Rp 25.000,00. Selain di Jalan Kranggan, untuk mendapatkan bulus yang masih mentah atau hidup bisa mendatangi Pusat Penampungan dan budidaya bulus di COkrodiningratan JT II/ 221 Yogyakarta. Selamat berburu! ***

Warung Makan Sate dan Tongseng Bulus Mbak Yanti
Alamat : Jalan Kranggan Kios Nomor 1 Yogyakarta
Jam buka : 10.00 hingga 21.00 WIB
Phone : 081904267957 dan 081804345173

Pemburu n Pakar Bulus Yogyakarta

Raja bulus dari Jogaja

Bulus, adalah nama familiar dari kura-kura yang hidup di perairan air tawar atau sungai. Sebutan raja bulus, mungkin pantas diberikan kepada H Afandi (53). Bapak enam orang anak yang tinggal di Cokrodiningratan No 22 Jetis, Yogya ini sudah sejak tahun 1970-an senang berburu bulus, hampir di semua sungai di Yogya dan Klaten.

Bulus itu diburunya dengan senar pancing nomor 100 dengan dua mata kail di ujungnya, yang diberi umpan precil (anak katak -red). Tahun 1980-an, Afandi mulai menjual bulus yang didapatnya ke pembeli yang ingin mengonsumsi daging dan memanfaatkan minyaknya. Selanjutnya di tahun 1988, ia pun mencoba membuka warung sate bulus di pertigaan timur Jalan Kranggan, yang ternyata laku hingga sekarang.

Ide membudidayakan bulus di samping rumahnya muncul di era 1996. ”Saat itu harga bulus sedang bagus-bagusnya, di pasaran satu ekor bisa sampai 14 ribu hingga 16 ribu dolar. Saya khawatir akan habis kalau hanya diburu, lalu saya mulai membudidayakannya,” tutur Afandi, yang juga hobi menekuni musik dan ketoprak ini.

Berbekal dua indukan bulus jantan dan 10 bulus betina dari Kali Progo, mulailah Afandi menjadi peternak bulus. Ilmunya didapat dari pengalaman gagal berkali-kali, sampai akhirnya ia benar-benar bisa membudidayakannya. ”Bulus ini nama ilmiahnya Trionix cortila javanese, yang belum termasuk hewan yang dilindungi,” ujarnya.

Kolam budidaya bulus di rumahnya tergolong sempit. Hanya berukuran 20 X 8 meter, berbentuk bak memanjang dan bertingkat (trap). Di bawah kolam diberi pasir. Sesekali bulus-bulus itu tampak di permukaan. ”Warna bulus tergantung dari kondisi airnya. Kalau dari Kali Progo cenderung coklat, seputar sungai di Kaliurang dan Kali Bedog warnanya hitam kelam,” sebutnya.

Menurut Afandi, bulus betina bertelur pertama kali umur 2-3 tahun sebanyak 24 butir, yang ukurannya sebesar bola pingpong. Umur 3-4 tahun bertelur 40 butir dan 10 tahun bisa ratusan butir. Di alam, keberhasilan menetasnya 30-40 persen, tapi Afandi berhasil membuatnya menjadi menetas 100 persen. ”Kolam saya yang lain berada di Cebongan, Sleman, karena kolam di rumah sudah tidak cukup,” akunya.

Afandi tak cuma melayani pembelian bulus hidup, yang dijualnya Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu/kg, tapi juga produk ikutannya. Seperti tempurung bulus, untuk bahan kerajinan dan lukisan. Lalu minyak bulus dan sabun bulus, yang dipesan oleh pengusaha spa dan salon-salon kecantikan. ”Hampir semua bagian tubuh bulus laku dijual, kecuali usus terakhir yang dekat kelamin dan kandung kemihnya,” timpalnya.
Kedaulatan Rakyat 25 April 2008